Eksplorasi 2.3 Studi Parapsikologi

Jessica Utts, seorang ahli statistik melakukan suatu analisis tentang studi Ganzfield yang menginvestigasikan fungsi paranormal. Studi Ganzfield terdiri dari “pengirim” dan “penerima”. Dua orang ditempatkan dalam ruangan akustik. Pengirim memperlihatkan suatu gambar “target” pada layar televisi (dimana merupakan suatu gambar tidak bergerak atau penggalan film pendek yang diulang berkali-kali) dan dilakukan untuk mengirimkan informasi tentang target ke penerima. Penerima diperlihatkan 4 kemungkinan gambar target, salah satunya adalah target yang benar dan yang lainnya adalah jawaban salah. Penerima harus memilih salah satu yang menurut mereka paling cocok dari informasi detail yang dikirimkan dari pengirim. Dari percobaan ini, Utts melaporkan bahwa analisisnya menyimpulkan bahwa jumlah dari 2124 percobaan terdapat 709 jawaban benar. (Utts, 2010).

  • Jika subyek dari studi ini tidak memiliki kemampuan paranormal, apa yang akan menjadi kemungkinan jangka panjang bahwa pengirim akan memilih target yang benar?
  • Berikan hipotesis alternatif dan hipotesis nol yang sesuai untuk uji apakah data memberikan bukti yang kuat dari kemampuan paranormal. Pastikan untuk mendefinisikan parameter secara detail dalam hipotesis Anda.
  • Hitunglah proporsi dari transmisis sukses dari 2124 percobaan yang dianalisis oleh peneliti. Apakah proporsi tersebut lebih besar dari nilai hipotesis nol untuk kemungkinan dari transimisi sukses?
  • Gunakan metode berbasis simulasi untuk memperkirakan nilai p untuk uji hipotesis.
  • Coba periksa bahwa validitas kondisi untuk metode berbasis teori. Kemudian gunakan metode berbasis teori untuk menghitung standarisasi statistik dan nilai p untuk uji hipotesis.
  • Berdasarkan nilai p dan standarisasi statistik, apakah Anda akan memberikan cukup untuk bukti yang menentang hipotesis nol seperti lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat? Jelaskan.
  • Bagaimana jika Anda harus membuat keputusan iya atau tidak tentang kemampuan paranormal berdasarkan dari data? Apakah Anda akan memutuskan untuk menolak hipotesis nol dari kemampuan bukan paranormal untuk mendukung hipotesis alternatif bahwa subyek memiliki kemampuan paranormal? Mengapa Anda mengambil keputusan ini?
  • Seberapa kecil nilai p yang Anda butuhkan untuk mempertimbangkan apakah Anda harus tidak menolak hipotesis nol dari kemampuan bukan paranormal untuk mendukung hipotesis alternatif bahwa subyek memiliki kemampuan paranormal? Dengan kata lain, nilai apa yang Anda gunakan untuk memotong nilai untuk mempertimbangkan apakah nilai p cukup kecil untuk menyediakan bukti yang meyakinkan untuk menentang atau tidak menerima hipotesis nol?

Kunci Ide : Ketika nilai lebih besar dari signifikan level yang telah diketahui, kita tidak memiliki bukti yang cukup untuk tidak menerima hipotesis nol. Ketika nilai lebih kecil atau sama dengan level signifikan, kita memiliki bukti yang cukup untuk tidak menerima hipotesis nol yang mendukung hipotesis alternatif.

  • Dengan menggunakan level signifikansi 0.05, apakah Anda akan menentang hipotesis nol dari kemampuan bukan paranormal?
  • Jika teman Anda memiliki kriteria yang lebih ketat dari Anda, memerlukan bukti yang lebih kuat sebelum memutuskan untuk menolak hipotesis nol, apakah teman Anda menggunakan level signifikansi yang lebih besar atau lebih kecil daripada Anda? Jelaskan.

Kunci Ide : Level signifikansi membatasi kemungkinan Anda secara tidak sengaja menolak hipotesis nol yang adalah benar. Untuk memenuhi standar yang lebih ketat dari penolakan hipotesis nol, gunakan tingkat signifikansi yang lebih kecil.

Dua contoh kesalahan yang dapat terjadi dengan beberapa uji signifikansi. Jika hipotesis nol benar tetapi data memperbolehkan peneliti untuk tidak menerima hipotesis nol, maka  peneliti melakukan kesalahan. Kesalahan ini terkadang disebut dengan peringatan salah (false alarm), karena peneliti percaya bahwa ia menemukan suatu efek atau perbedaan ketika benar-benar tidak ada efek atau perbedaan. Dengan kata lain, jika hipotesis nol sebenarnya salah tetapi data tidak memperbolehkan peneliti untuk menolak hipotesis nol, maka peneliti membuat suatu kesalahan yang berbeda. Kesalahan ini disebut dengan kesempatan yang terjawab, karena peneliti gagal untuk mendeteksi suatu efek/perbedaan yang sebenarnya terjadi.

Beberapa kesalahan yang dapat direpresentasikan dalam Tabel 2.11:

screen-shot-2016-09-20-at-3-27-02-pm
Tabel 2.11 : Kesalahan Tipe I dan Tipe II disimpulan dalam konteks percobaan penjurian
  • Dengan menggunakan level signifikansi 0.05, tipe kesalahan seperti apakah (peringatan salah atau kesempatan yang terlewatkan) dapat Utts dan teman sekelasnya dapat simpulkan dari studi ESP ini? Jelaskan jawaban Anda. (Petunjuk: Pertama coba tanyakan apakah data menolak hipotesis nol atau tidak). Kemudian tanyakan kesalahan seperti apa yang mungkin dengan keputusan.)

Artikel dari Utts (2010) menunjukkan ke studi 56 individu yang menunjukkan total kombinasi dari 2124 percobaan yang telah kalian analisa disini. Sebagian besar dari studi ini melibatkan ukuran sampel kurang lebih 50 sesi. Salah satu studi melibatkan 50 percobaan dan menghasilkan 15 jawaban benar.

  •  Gunakan simulasi atau analisis berbasis teori untuk menaksir nilai p untuk suatu studi yang menghasilkan 15 benar dari di 50 percobaan. Apakah nilai p cukup kecil untuk tidak menerima hipotesis nol dari kemampuan bukan paranormal di level signifikansi 0.5? Bagaimana dengan level 0.01 ?
  • Apa tipe kesalahan yang dapat Anda buat dengan keputusan Anda di keputusan Anda di atas? Jelaskan kesalahan dalam konteks studi ini.
  • Bagaimana jika peneliti menggunakan level signifikansi yang sangat kecil? Katakan, 0.0001. Bagaimana keputusan ini mempengaruhi kemungkinan membuat kesalahan Tipe I? Jelaskan jawaban Anda dalam konteks ini.
  • Ini adalah beberapa konsekuensi pilihan dari level signifikansi yang dipilih dalam pertanyaan sebelumnya. Jelaskan apa yang Anda pikirkan akan terjadi untuk kemungkinan yang peneliti temukan tentang kekuatan bukti dari kemampuan fisik jika kemungkinan benar dari lebih dari 25%? Mengapa?

Kunci Ide : Salah satu akibat dari memilih level signifikansi yang lebih kecil (kemungkinan kesalahan tipe I jika hipotesis nol benar), adalah ada kemungkinan kesalahan Tipe II akan meningkat.

Kekuatan dan Kemungkinan dari Kesalahan Tipe II 

Seperti tingkat signifikansi, kemungkinan melakukan kesalahan Tipe I, peneliti juga dapat menemukan kemungkinan dari kesalahan Tipe II. Namun, biasanya, peneliti tidak berbicara tentang kemungkinan dari kesalahan Tipe II secara langsung, sebagai gantinya kita memilih untuk bicara tentang kekuatan uji, dimana kemungkinan menolak hipotesis nol ketika hipotesis alternatif benar (pilihan yang tepat), secara sederhana satu kurangnya dari kemungkinan kesalahan dari Tipe II.

Untuk alasan tersebut, peneliti ingin uji mereka kuat. Dengan kata lain, peneliti ingin kekuatan uji (kemungkinan secara benar menolak hipotesis nol, jika hipotesis alternatif benar) lebih tinggi. Kemudian kita akan berbicara tentang bagaimana peneliti dapat mengatur kekuatan dari uji mereka.

  • Jika kemungkinan benar adalah tepat 33%, maka hipotesis manakah yang benar? Kesalahan seperti apa yang mungkin?
  • Jika kemungkinan benar adalah tepat 33%, ukuran sampel adalah 50 dan peneliti menggunakan tingkat signifikansi 5%, kesalahan Tipe II dengan nilai 77.5%. Apa kekuatan dari uji ini? Berikan minimal satu hal yang peneliti dapat lakukan untuk meningkatkan kekuatan dari uji ini.