Contoh 5.1 Persepsi Baik dan Buruk

Peneliti ingin mengetahui apakah susunan kata dari suatu kalimat mempengaruhi respon seseorang. Mereka menanyakan kepada beberapa siswa apakah mereka sedang menjalani “tahun yang baik” dan sejumlah siswa lainnya ditanyakan apakah mereka sedang menjalani “tahun yang buruk”. Kemudian dicatat data dari 30 subyek mengenai persepsi baik (positif) atau buruk (negatif). Pertanyaan mana yang akan diberikan kepada masing-masing subyek juga sudah ditentukan sebelumnya secara acak.

Pikirkanlah: Apakah unit observasi dalam penelitian ini? Berapa variabel yang dicatat dari setiap unit observasi? Identifikasi dan klasifikasi perna dari variabel dalam penelitian ini. Apakah ini merupakan studi observasi atau eksperimen acak?

Unit observasi dalam penelitian ini adalah 30 subyek, namun kini kita memiliki 2 variabel: apakah susunan kalimat “tahun yang baik” atau “tahun yang buruk” dan apakah respon subyek secara positif atau negatif. Dalam penelitian ini, penliti berpikir bahwa susunan kata dari suatu kalimat mempengaruhi persepsi seseorang. Oleh karena itu, variabel penjelasnya (explanatory) adalah susunan kalimat dan variabel respons adalah persepsi seseorang akan tahun yang mereka jalani ini. Karena variabel penjelas sudah ditentukan kepada subyek, penelitian ini adalah suatu eksperimen acak.

Peneliti mencatat data dengan mencatat susunan kalimat apa yang ditanyakan dan bagaimana respon subyek. Berikut adalah tabel hasil:

Presentation1

Lihatlah bahwa dalam tabel ini tercantum dua variabel: susunan dan persepsi. Namun, tabel ini tidak memudahkan kita untuk melihat tren pola dari respon. Kita dapat membuat suatu two-way table untuk menuliskan data yang didapat, seperti berikut ini:

Presentation1

Pikirkanlah: 

  • Verifikasilah bahwa ada empat individu dalam tabel respons positif terhadap “tahun buruk”.
  • Apakah masuk akal untuk mengambil kesimpulan bahwa ada kecenderungan untuk merespon positif terhadap pertanyaan “tahun baik” dibandingkan dengan “tahun buruk”?

Perlu diingat bahwa membandingkan dengan cara penghitungan langsung jika ukuran masing-masing kelompok berbeda. Di penelitian ini, lebih banyak orang ditanyakan “tahun baik” dibandingkan “tahun buruk”. Untuk itu, lebih membantu ketika kita mengamatinya berdasarkan conditional proportions (proporsi kondisi). Kita kemudian membandingkannya dengan persentase yang didapatkan. Misalnya pertanyaan “tahun baik” dengan respon positif didapat 15/18 yang kira-kira 83%. Kemudian, kita membandingkan nilai ini dengan pertanyaan “tahun buruk” dengan respon positif dan didapat 4/12 yaitu 33%. Perlu diingat bahwa kedua nilai ini merupakan proporsi sampel yang telah dihitung dari sampel data.

Kita dapat menghasilkan gambaran dari data sehingga pembandingannya lebih jelas. Sebelumnya, kita menggunakan diagram batang untuk membandingkan hasil variabel kategori tunggal. Untuk membandingkan hasil dua variabel, kita membuat segmented bar graph (diagram batang bersegmen), seperti berikut:

Presentation3

Menarik Kesimpulan

Data yang didapat ini mendukung pernyataan bahwa orang akan memiliki persepsi positif terhadap pertanyaan “Apakah tahun ini baik?” daripada “Apakah tahun ini buruk?” Dengan kata-kata lain, ada asosiasi antara susunan kata dalam kalimat dengan persepsi dan respon seseorang. Kita dapat mengatakan bahwa proporsi respon positif dari “tahun baik” lebih banyak daripada “tahun buruk”.

Cara lain untuk membandingkan kedua conditional proportion adalah untuk menerima rasio 0.83 : 0.33, sehingga persepsi positif 2.49 lebih tinggi pada “tahun baik” daripada “tahun buruk”. Rasio ini disebut sebagai relative risk. Rasio ini seringkali digunakan dalam bidang kedokteran untuk melihat resiko dari suatu penyakit dari suatu treatment ke treatment yang lain.

Definisi: Relative risk adalah rasio dari dua conditional proportion. Ini mengindikasikan berapa kali lebih besar hasil suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok lainnya.