Uji satu proporsi – 6 langkah penyelidikan statistik

Di dalam materi kita kali ini, kita akan belajar tentang uji proporsi. Agar pembicaraan kita menjadi lebih jelas, kita akan menggunakan Contoh 1.1 yaitu mengenai apakah lumba-lumba dapat berkomunikasi. Selain belajar mengenai uji proporsi disini kita juga akan belajar mengenai unit pengamatan, variabel dan tipenya, hipotesis, chance model, sampel dan populasi, statistik dan parameter, dan terakhir strategi 3S (Statistics, Simulation, Strength of Evidence).

Jika anda telah membaca contoh mengenai apakah lumba-lumba dapat berkomunikasi, mari kita melakukan 6 langkah penyelidikan statistik.

1. Merumuskan masalah
Dalam hal ini jelas bahwa masalah yang akan kita jawab adalah apakah lumba-lumba dapat berkomunikasi.

2. Pengumpulan data
Dr Jarvis telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melakukan pengumpulan data. Berawal dari melatih lumba-lumba untuk mengenal tentang sinyal, lalu melatih lumba-lumba tentang urutan dan pada akhirnya Dr Jarvis melakukan percobaan apakah lumba-lumba dapat berkomunikasi. Unit pengamatan dalam contoh ini adalah percobaan-percobaan Buzz dalam menekan tombol. Variabel dalam contoh ini adalah apakah Buzz menekan tombol yang benar (tipe variabel ini adalah kategorikal).

3. Pengolahan data
Di dalam contoh ini, terdapat 16 percobaan yang dilakukan oleh Dr Jarvis (dan juga Buzz), dan kita menyebut itu adalah sampel. Dari 16 sampel ini Buzz menekan tombol yang benar sebanyak 15 kali. Secara singkat, kita bisa mengatakan bahwa 15/16 sebagai sebuah statistik dari contoh ini.

4. Inferensi statistik
Perlu dicatat bahwa 16 percobaan ini hanyalah contoh kecil dari seluruh percobaan yang dilakukan oleh Buzz. Kita bisa saja mengamati percobaan Buzz menekan tombol tersebut sebanyak 100 kali, atau bahkan 1000 kali. Seperti yang telah dikatakan dalam contoh ini, selain ingin menjawab permasalahan dalam penelitian ini (mengetahui apakah lumba-lumba berkomunikasi) kita juga ingin mengetahui peluang Buzz menekan tombol yang benar atau proposi Buzz menekan tombol yang benar dalam jangka waktu yang panjang. Nilai ini kita sebut dengan parameter. Disini kita mengasumsikan bahwa peluang Buzz menekan tombol yang benar tidak berubah terhadap waktu. Karena kita tidak dapat mengamati semua percobaan Buzz menekan tombol dalam jangka waktu yang panjang, kita perlu mengambil kesimpulan mengenai peluang Buzz menekan tombol yang benar berdasarkan 16 kali percobaan ini. Dari 16 percobaan ini kita mendapatkan dua kemungkinan:
I. Buzz hanya menebak-nebak, dan Buzz beruntung dapat menebak dengan benar sebanyak 15 kali.
II. Buzz tidak menebak-nebak tetapi ia mempunyai suatu pegangan dalam menentukan tombol mana yang harus ia tekan.

Dalam kemungkinan I, karena Buzz hanya sekedar menebak-nebak, peluang Buzz menekan tombol yang benar adalah 0.5. Tetapi dalam kemungkinan II dimana Buzz mempunyai suatu pegangan dalam menekan tombol yang benar, peluang Buzz menekan tombol yang benar jelas lebih besar dari 0.5.

5. Penarikan kesimpulan
Dalam materi kita kali ini, kita memang belum dapat menarik kesimpulan apa-apa karena kita belum mendapatkan apa-apa dari langkah sebelum ini.

6. Evaluasi dan mengulang dari awal
Setelah menyelesaikan langkah 1 sampai dengan langkah 5, kita perlu mengevaluasi diri apakah kita sudah melakukan semuanya dengan baik. Hal-hal apa sajakah yang kita asumsikan dalam contoh ini? Apakah ada yang perlu diperbaiki sehingga kita mendapatkan sebuah kesimpulan yang masuk akal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *